Ajari
aku berteman denganmu, Waktu
Kini aku terpejam dalam dimensi
waktu. Aku tahu, aku tidak sedang di masa lalu tetapi aku sedang di suatu masa
yang bukan masa lalu, ya masa sekarang dan bukan masa lalu, namun jiwa dan hati
serta rasaku masih di masa lalu seakan aku tak ingin menerima kenyataan bahwa
semua itu sudah berlalu. Aku masih ingin berada di masa itu.
Waktu,
ajari aku agar bisa berteman denganmu, agar aku bisa mengenalmu, memahamimu dan
agar aku bisa mengikhlaskan semua yang terjadi yang selalu beriringan dengan
mu. Wahai waktu.. izinkan aku tuk menyentuhmu, menjadikanmu satu dengan jiwaku
hingga aku mampu memahamimu, mengertikanmu dan mengikhlaskanmu jika seandainya
engkau menyakitiku dengan sebuah moment yang menjadikan aku mengingatmu dalam
sebuah bingkai kenangan. Waktu, engkau begitu indah namun juga terkadang
menyakitkan, aku menginginkan hal yang menyakitkan masih terasa indah jika aku
telah memahami dan mengenalmu.
Waktu,
engkau adalah bagian dari cerita Tuhan yang Tuhan lukiskan untuk setiap insan.
Waktu, andai aku bisa mengenalmu, aku pasti akan mengenal cerita Tuhan, bahwa
cerita Tuhan pasti selalu indah, karena cerita Tuhan pasti terlukis dari kasih
dan sayang-Nya. Karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik, karena sakitnya
cerita Tuhan pasti akan ada cerita indah yang bisa menggantikan rasa sakit itu
dan itu pasti akan sangat indah.
Waktu,
izinkan aku bersentuhan denganmu, merasakan setiap rahasia yang terkandung
dalam setiap moment hidup ini yang tak mungkin ada jika tanpamu. Waktu, izinkan
aku berteman denganmu, memahami dan mengenal setiap skenario Tuhan untuk
makhluk ciptaan-Nya dan salah satunya adalah aku. Waktu, ajari aku bagaimana
berteman denganmu.
Aku
menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang tak mungkin bisa kita lihat wujudnya
bahkan tak mungkin kita ajak berbincang, tetapi aku tahu bahwa hati ini selalu
bisa melakukan apapun termasuk berbincang dengan hal yang tak memiliki indra
berbicara yakni waktu. Karena hati bisa bersentuhan dengan apapun. Termasuk
cinta. Ya cinta. Cinta Tuhan yang terselip dalam waktu. Dalam setiap cerita
yang terselip dalam waktu. Setiap moment yang hadir dalam waktu.
Indah
sekali rasanya bila bisa duduk berdampingan dengan sang waktu, membicarakan
tentang apa yang seharusnya akan terjadi, merencanakan untuk setiap yang akan
terjadi di hari esok dari masa depan. Waktu, kini aku akan mulai mendekatimu.
Dengan cara menghargaimu.

2 komentar:
terlalu banyak kata aku
terlalu banyak kata aku
Posting Komentar