Kado Terindah
Siang itu pemandangan alam sangat
indah, awan yang biru dengan langit yang begitu putih, bersih dan siapapun yang
melihatnya akan merasakan kebesaran-NYA lewat lukisan langit yang begitu indah
itu. Ditambah dengan panorama alam dan keindahan alam lainnya yang ada di
sekitarnya.
Namun nampaknya keindahan langit dan
alam itu berbanding terbalik dengan suasana hati Vivi sekarang. Dia galau,
gelisah, sedih namun juga di hatinya tersimpan rasa marah, benci, kesal,
menyesal dan Vivi tidak tahu ia harus bagaimana. Ia bingung. Ia lelah dengan
semua keadaan yang sedang ia hadapi
sekarang.
Suatu hari Vivi sedang asyik
mengobrol dengan ketiga temannya, Vivi tiba-tiba teringat dengan seseorang yang
pernah ada dalam hatinya dulu. Ketika pertama kali ia memiliki seorang kekasih
dan merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Namanya Rangga. Namun setelah
itu tiba-tiba Vivi terdiam, ia tidak tahu mengapa ia tiba-tiba teringat dengan
kekasihnya dulu yang sekarang sudah tidak berhubungan lagi karena sebuah
perselingkuhan Rangga yang sangat menyakitkan hati Vivi. Vivi masih terdiam, ia
masih belum mengerti mengapa ia tiba-tiba teringat kekasihnya. Namun seolah
tidak mau diketahui teman-temannya dengan apa yang dirasakannya, ia tertawa
riang bercanda senda gurau dengan teman-temannya, menutupi semua kebimbangan
yang tengah dirasakannya. Vivi memang anak yang riang dan tidak pernah terlihat
sedih sekalipun ia mempunyai masalah. Hati vivi selalu mencoba bahagia dalam
keadaan apapun.
Sorenya sepulang sekolah, Tidak tahu
ia buru-buru melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan duduk di samping
meja telp. Vivi berniat untuk menelp kekasih dulunya. Namun sejenak ia
mengurungkan niatnya karena ia teringat tentang perselingkuhan kekasih dulunya itu
yang membuat hatinya sangat sakit karena kekasih dulunya itu meninggalkannya
dan pergi bersama selingkuhannya itu. Namun di sisi lain ia juga ingin sekali
menelp hanya ingin memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa karena ia masih saja teringat
terus dengan kekasih dulunya itu. Tanpa berfikir panjang Vivi mengangkat telp
dan menekan nomor telp kekasih dulunya itu yang ternyata masih dia ingat.
“Halo, bisa bicara dengan Rangga?” kata Vivi berdebar. “Iya, ini Rangga.” Jawab
Rangga singkat. “Masih ingat aku?” Vivi membalas “Tentu saja aku tidak akan
melupakan suara kamu, apa kabar?” kata Rangga yang tampak bahagia. “Kamu masih
ingat aku?” Vivi meyakinkan. “Vivi kan? Mana mungkin aku lupa sama suara kamu,
Vi. Aku selalu ingat kamu dan suara kamu juga masih aku hafal.” Ucap Rangga.
Hati Vivi sangat bahagia karena ternyata lelaki yang sangat ia cintai itu masih
mengingatnya juga. Namun di sisi lain ia juga masih merasakan sakit hati ketika
ia ingat perselingkuhan Rangga. “ Apa kabar Vi, sudah lama kita gak ketemu, aku
kangen kamu, Vi. Aku juga kangen dengan semua kenangan kita dulu.” Rangga
mengingat masa lalunya dengan Vivi dan membangunkan Vivi dari lamunannya. “ O…h
Kabarku baik-baik saja, Ga. Oh iya maaf ya Ga telpnya aku tutup dulu.”. Tuuuut
Tuuut Tuuut Vivi menutup telpnya dan Rangga tidak sempat mengatakan sesuatu
yang ingin ia katakan dari dulu.
Vivi pergi ke kamarnya. Ia menangis.
Kenapa ia harus merasakan semua ini. Sakit hati di waktu yang tidak tepat. Ya,
dulu ketika perselingkuhan Rangga diketahui oleh Vivi, Vivi tidak merasakan
sakit hati sedikitpun bahkan ia seakan mati rasa dan Vivi masih bisa tersenyum
padahal ia sudah di khianati oleh Rangga. “Mungkin aku begini karena dulu aku
gak bisa terima perselingkuhan Rangga dan aku mencoba untuk tetap tegar dan kuat
namun ternyata ketegaranku tidak bertahan lama, dan mungkin ini adalah akhir
dari ketegaranku. Aku harus selalu menatap kenyataan dan tidak lagi membohongi
perasaan sendiri” Ungkap Vivi dalam hati.
Keesokan harinya Vivi bertemu dengan
Rangga. Rangga tengah menggandeng seorang perempuan. Rangga melihat Vivi
mengetahui keberadaaannya. Kemudian Rangga berbalik arah menghindari Vivi. Namun
kali ini Vivi tidak bersikap diam lagi, ia tidak ingin lagi membohongi
perasaannya sendiri dengan selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Rangga
tidak sedang mengkhianati. Vivi bersikap seperti itu hanya sekedar untuk
menenangkan hatinya. Namun sekarang ia ingin menerima kenyataan bahwa ia memang
terluka. Saat itu sontak saja Vivi menghampiri Rangga tepat di depannya saat
perempun yang tengah bersamanya sedang membeli minuman “Apa kabar, Rangga? Aku
fikir sudah cukup sampai disini aku bersabar, dan sudah cukup sampai disini
kamu menyakiti. Kamu tidak usah menghindar lagi, karena aku tidak akan lagi ada
dalam kehidupanmu ”. ucap Vivi yang kemudian pergi berlalu. Rangga yang tidak
menyangka bahwa Vivi akan berkata seperti itu hanya terdiam dan memandang Vivi
yang pergi berlalu meninggalkan dirinya.
Setelah itu Rangga segera mengajak Keyla, perempuan yang selalu
bersamanya untuk pulang. Setelah mengantarkan Keyla pulang, Rangga segera
menemui Vivi ke rumahnya. Ia pun mengetuk pintu dan berharap Vivi ada di
rumahnya. Namun ternyata ketika yang membukakan pintu adalah ibunda Vivi dan ia
mengatakan bahwa Vivi sedang tidak ada di rumah, Rangga segera berpamitan
pulang kembali dan ia menancapkan kembali gas motornya menuju sebuah dermaga
kecil dekat rumah Vivi. Ya, tempat favorit mereka berdua kala masih menjalin
tali kasih. Benar saja ketika Rangga kesana, Vivi tengah duduk disana dengan
pandangan yang entah memandang apa. Vivi tidak tahu jika di belakangnya ada
Rangga yang memperhatikannya. Perlahan, Rangga pun menghampiri Vivi dari
belakang. “Vivi?” Ucap Rangga penuh perasaan. Vivi pun menengok setengah
terkejut. “Rangga?! Mau apa kamu kesini?” Ucap Vivi dengan nada keras. “Maafkan
aku, Vi. Aku tidak tahu kenapa ucapanmu waktu itu membuatku sakit sekali tapi
aku jadi sadar ternyata terluka itu memang sakit sekali rasanya. Aku mau
meminta maaf karena aku sempat melukaimu dengan pengkhianatiku.” “Untuk apa
kamu lakuin ini semua, tiba-tiba datang
kesini dan meminta maaf?” “Aku hanya ingin meminta maaf, karena aku sekarang
menyadari kesalahanku dan aku bisa merasakan kesakitanmu.” “Terus sekarang mau
kamu apa?” “Aku hanya ingin kamu mema’afkanku” “Lalu?” “Aku hanya ingin
menghapus semua luka yang pernah aku goreskan dalam hatimu” “Sudahlah, aku
sudah melupakan semua itu” “Tapi aku mohon, maafkan aku. Ucapkan bahwa kamu
telah mema’afkanku” “Aku tidak mengerti dengan sikapmu” Ucap Vivi dengan kedua
bola matanya yang berkaca-kaca. “Tiga tahun aku bersamamu, itu bukan waktu yang
sebentar dan aku menghancurkan semua harapan dan mimpi-mimpi kita dulu dengan
sebuah pengkhiatanku yang tidak ada maknanya. Dan kini aku kembali ingin
menebus semua kesalahanku yang membuat perasaanmu hancur” ucap Rangga yang
masih mengingat semua kenangan indahnya kala bersama Vivi. “Kamu fikir dengan
meminta maaf semuanya akan selesai? Kamu tidak tahu bagaimana rasa sakit yang aku
rasakan waktu itu. Tapi aku selalu
mencoba tegar dan menganggap bahwa apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan
itu tidak benar. Aku mencoba membohongi perasaanku sendiri dengan tidak pernah
melihat kenyataan bahwa kamu benar-benar menghancurkan dan melukaiku” “Aku tahu
maaf bukanlah penghapus luka, tapi aku yakin dari sanalah semua luka itu
perlahan akan terkikis. Aku meminta keikhlasanmu untuk mema’afkanku” “Baiklah
jika itu maumu, akan aku ucapkan bahwa aku mema’afkan mu Rangga. Tapi aku minta
kamu jangan temui aku lagi” “Maafkan aku Vivi”. Rangga memeluk Vivi. Vivi yang
begitu sakit hati dan terluka tak terasa mengeluarkan air matanya saat Rangga
memeluknya penuh perasaan. Vivi tidak bisa menolak dan menahan Rangga untuk
memeluk dirinya dengan penuh rasa bersalah. Perlahan rasa sakit itu pun mulai
terkikis. Angin yang membawa daun kering menambrak Vivi dan Rangga. Perlahan rasa sakit dan luka
yang Vivi rasakan pun menghilang. Air mata Vivi berjatuhan membasahi baju
Rangga. Rangga pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Vivi. “Kamu jaga
diri baik-baik ya. Kamu harus tahu bahwa sebenarnya perempuan yang ada dalam
hati ini hanya lah kamu. Aku lakukan ini semua karena aku ingin melihatmu tegar
dan terbiasa tanpa aku yang sudah tiga tahun bersamamu” “Maksudmu?” Tanya Vivi
penuh tanya. Rangga pun tersenyum “Aku harus pergi dulu, ma’afkan aku”. Vivi
yang tidak mengerti dengan sikap Rangga hanya terdiam sambil melihat Rangga
pergi berlalu meninggalkannya sendiri. Rangga seakan pergi dengan membawa luka
yang ada dalam hati Vivi, karena entah mengapa rasa sakit yang dirasakan Vivi
kini hilang entah kemana. Vivi tidak mengerti dengan semua yang ia rasakan.
Beberapa hari kemudian Vivi
dikejutkan dengan kabar Rangga masuk rumah sakit. Kabar itu dari perempuan yang
waktu itu bersama Rangga, yang kemudian mengajak Vivi untuk segera menjenguk
Rangga. Vivi heran dan begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Vivi, tentang
apa dan kenapa perempuan itu mengabarkannya dan mengajaknya menjenguk Rangga,
namun Vivi memilih diam tak banyak bicara, ia segera berangkat untuk menjenguk
Rangga. Sesampainya disana, Vivi melihat Rangga tengah berbaring tidak sadarkan
diri, kedua matanya terpejam dan alat pendeteksi jantung berada di sampingnya,
salah satu tangannya disuntik jarum infus. Kondisi Rangga sangat
mengkhawatirkan. Vivi pun mendekati Rangga, air matanya menetes. “Rangga?” Ucap
Vivi. Kemudian ia pun menoleh ke arah perempuan yang mengajaknya menegok Rangga
“Sebenarnya Rangga sakit apa?” Tanya Vivi sedih. “Dia telah lama mengidap
penyakit kanker kepala stadium akhir, dan waktu itu dokter sempat memprediksikan
bahwa usianya tak akan lama lagi. Semenjak saat itu ia memutuskan untuk pergi
dari kehidupanmu.” “Pergi dari kehidupanku?” “kenangan kalian sangat indah dan
kebersamaan yang sudah kalian jalin pun sudah sangat lama, dia hanya ingin
melihatmu kuat setelah dia benar-benar pergi meninggalkanmu untuk
selama-lamanya” “Kenapa dia lakukan itu semua?” “Dia hanya ingin melihatmu kuat
meninggalkan semua rasa, kenangan dan kebersamaan yang pernah kalian jalin”
“Kenapa harus dengan cara seperti itu, kenapa harus dengan sebuah luka?”
“Karena dia fikir hanya dengan cara itu, dia punya alasan untuk bisa pergi dari
mu ia hanya ingin mengajarkan hidup tanpa dia lagi untuk selama-lamanya”. Vivi
pun menangis, dia memegang tangan Rangga. “Dia juga sempat beberapa kali
pingsan dan saat tersadar dia selalu memanggil-manggil namamu.”. Mendengar
cerita perempuan itu, Vivi hanya terdiam. “Aku tahu dia sangat menyayangimu dan
ketika beberapa kali jalan denganku, dia tak sedikit pun menunjukkan rasa
sayangnya. Namun perjuangannya untuk tetap bersamaku itu selalu ada. Mungkin ia
hanya ingin menjadikanku alasan untuk bisa pergi dari kehidupanmu” Lanjut perempuan
itu. Namun Vivi masih terdiam. Perempuan itu pun menarik nafas dalam dan
melanjutkan kembali ceritanya “Aku tahu, cara Rangga sangatlah konyol. Tapi itu
semua karena dia menyayangimu. Aku bukanlah orang yang sebenarnya dia sayang.
Tapi kamu adalah satu-satunya perempuan yang dia sayang. Jadi aku mengajakmu
kesini bukan tanpa alasan. Karena aku tahu hanya kamu yang bisa
menyadarkannya”. Namun Vivi hanya terdiam mendengar semua cerita perempuan itu.
Ia hanya meneteskan air mata, namun kemudian Vivi memegang erat tangan Rangga.
Air mata Vivi menetes di atas tangan Rangga. Vivi tidak tahu apa yang harus ia
katakan dan ia lakukan. Semua rasa bercampur menjadi satu. Vivi pun memegang
tangan kanan Rangga dengan erat. Satu menit pun telah berlalu. Akhirnya tangan
Rangga perlahan bergerak dan ia mulai membuka kedua matanya pelan-pelan.
Menyadari semua itu, perempuan yang selalu bersama Rangga itu pergi keluar. Dan
ia hanya melihat Vivi dan Rangga di balik kaca ruangan Rangga dirawat. “Vi...vi...
kau kah itu? Aku merasakan kehadiranmu. Vi...vi... Maafkan a...ku.” Ucap Rangga
terbata-bata. “Rangga,,,.” Ucap Vivi penuh perasaan. “Maafkan semua salah ku.
Maafkan caraku menyayangimu. Aku mohon maafkan aku. Ini yang ingin aku ucapkan
waktu kamu nelp aku waktu itu” Ucap Rangga lagi. Mendengar suara Rangga, Vivi
pun kembali meneteskan air mata. Kenapa harus dengan cara seperti itu Rangga?”
“Maafkan aku, Vi. Selamat ulang tahun”. Kemudian alat pendeteksi jantung pun
berbunyi tanpa jeda menandakan bahwa jantung Rangga telah berhenti berdetak.
Mengetahui hal itu Vivi pun histeris ”Ranggaaaaaaaaaaaaaa”. Keyla, perempuan
yang selalu bersama Rangga itu pun menghampiri dan menenangkan Vivi. Kemudian
memanggil dokter. Vivi yang masih histeris tidak mau kehilangan Rangga menangis
sejadi-jadinya. Namun ternyata benar. Ia merasa lebih kuat dan tegar. Semua
yang Rangga lakukan sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya itu tepat. Ia perlahan menghentikan tangisannya dan Vivi
sudah bisa merelakan kepergian Rangga. Tak lama kemudian kekasih Rangga memegang salah satu pundak Vivi “Ada sesuatu
untukmu” Vivi pun menoleh “Sebuah kalung dari Rangga dan ini sebuah surat dari
Rangga untukmu. Vivi pun membuka surat dari Ranggga. “Selamat ulang tahun
sayang, dan happy anyversary untuk kita. Maafkan jika caraku menyayangimu
salah. Aku hanya ingin mengajarkanmu untuk kuat dan bisa merelakan aku pergi
bersama semua kenangan dan kebersamaan kita dulu” Vivi pun menangis. “Oya aku
hanya ingin memberi tahu, bahwa aku dan Rangga belum pernah menjalin suatu
hubungan. Kita hanya selalu bersama tanpa ada ikatan apapun karena mungkin ia
tidak ingin mengkhianatimu. Jadi Rangga
tidak pernah mengkhianatimu” Ucap perempuan itu “Jadi kamu bukan kekasih
Rangga?” “Sama sekali bukan, aku hanya selalu bersama saja. Oya maaf aku harus
segera pergi.” Kemudia perempuan itu pergi meninggalkan Vivi entah kemana. Dan
Vivi hanya terdiam mendengar cerita perempuan itu.
Keesokan harinya, Vivi melayat ke
makam Rangga begitu pun dengan perempuan yang selalu bersama Rangga. Setelah
beberapa lama dan semuanya pergi, Vivi masih berada di makam Rangga sendiri.
Tepat di samping makan Rangga, Vivi memandang batu nisan Rangga “kamu benar, Rangga.
Sekarang aku menjadi lebih kuat melepas kepergianmu, kamu memberikan aku luka
dan setelah itu kamu membawanya kembali.
Dan kini tidak ada luka sedikit pun di hati ini. Karena kamu sudah mengambilnya
kembali waktu itu. Maafkan aku telah mengiramu mengkhianatiku. Aku
menyayangimu, dan aku merelakan kepergianmu. Kado terindah yang tak kasat mata
yang pernah aku dapatkan”. Vivipun pergi berlalu meninggalkan makam Rangga.
_The end_
