RSS

Senin, 20 Mei 2013

Cerpen_Kado Terindah


Kado Terindah
            Siang itu pemandangan alam sangat indah, awan yang biru dengan langit yang begitu putih, bersih dan siapapun yang melihatnya akan merasakan kebesaran-NYA lewat lukisan langit yang begitu indah itu. Ditambah dengan panorama alam dan keindahan alam lainnya yang ada di sekitarnya.
            Namun nampaknya keindahan langit dan alam itu berbanding terbalik dengan suasana hati Vivi sekarang. Dia galau, gelisah, sedih namun juga di hatinya tersimpan rasa marah, benci, kesal, menyesal dan Vivi tidak tahu ia harus bagaimana. Ia bingung. Ia lelah dengan semua keadaan yang sedang  ia hadapi sekarang.
            Suatu hari Vivi sedang asyik mengobrol dengan ketiga temannya, Vivi tiba-tiba teringat dengan seseorang yang pernah ada dalam hatinya dulu. Ketika pertama kali ia memiliki seorang kekasih dan merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Namanya Rangga. Namun setelah itu tiba-tiba Vivi terdiam, ia tidak tahu mengapa ia tiba-tiba teringat dengan kekasihnya dulu yang sekarang sudah tidak berhubungan lagi karena sebuah perselingkuhan Rangga yang sangat menyakitkan hati Vivi. Vivi masih terdiam, ia masih belum mengerti mengapa ia tiba-tiba teringat kekasihnya. Namun seolah tidak mau diketahui teman-temannya dengan apa yang dirasakannya, ia tertawa riang bercanda senda gurau dengan teman-temannya, menutupi semua kebimbangan yang tengah dirasakannya. Vivi memang anak yang riang dan tidak pernah terlihat sedih sekalipun ia mempunyai masalah. Hati vivi selalu mencoba bahagia dalam keadaan apapun.
            Sorenya sepulang sekolah, Tidak tahu ia buru-buru melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan duduk di samping meja telp. Vivi berniat untuk menelp kekasih dulunya. Namun sejenak ia mengurungkan niatnya karena ia teringat tentang perselingkuhan kekasih dulunya itu yang membuat hatinya sangat sakit karena kekasih dulunya itu meninggalkannya dan pergi bersama selingkuhannya itu. Namun di sisi lain ia juga ingin sekali menelp hanya ingin memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa karena ia masih saja teringat terus dengan kekasih dulunya itu. Tanpa berfikir panjang Vivi mengangkat telp dan menekan nomor telp kekasih dulunya itu yang ternyata masih dia ingat. “Halo, bisa bicara dengan Rangga?” kata Vivi berdebar. “Iya, ini Rangga.” Jawab Rangga singkat. “Masih ingat aku?” Vivi membalas “Tentu saja aku tidak akan melupakan suara kamu, apa kabar?” kata Rangga yang tampak bahagia. “Kamu masih ingat aku?” Vivi meyakinkan. “Vivi kan? Mana mungkin aku lupa sama suara kamu, Vi. Aku selalu ingat kamu dan suara kamu juga masih aku hafal.” Ucap Rangga. Hati Vivi sangat bahagia karena ternyata lelaki yang sangat ia cintai itu masih mengingatnya juga. Namun di sisi lain ia juga masih merasakan sakit hati ketika ia ingat perselingkuhan Rangga. “ Apa kabar Vi, sudah lama kita gak ketemu, aku kangen kamu, Vi. Aku juga kangen dengan semua kenangan kita dulu.” Rangga mengingat masa lalunya dengan Vivi dan membangunkan Vivi dari lamunannya. “ O…h Kabarku baik-baik saja, Ga. Oh iya maaf ya Ga telpnya aku tutup dulu.”. Tuuuut Tuuut Tuuut Vivi menutup telpnya dan Rangga tidak sempat mengatakan sesuatu yang ingin ia katakan dari dulu.
            Vivi pergi ke kamarnya. Ia menangis. Kenapa ia harus merasakan semua ini. Sakit hati di waktu yang tidak tepat. Ya, dulu ketika perselingkuhan Rangga diketahui oleh Vivi, Vivi tidak merasakan sakit hati sedikitpun bahkan ia seakan mati rasa dan Vivi masih bisa tersenyum padahal ia sudah di khianati oleh Rangga. “Mungkin aku begini karena dulu aku gak bisa terima perselingkuhan Rangga dan aku mencoba untuk tetap tegar dan kuat namun ternyata ketegaranku tidak bertahan lama, dan mungkin ini adalah akhir dari ketegaranku. Aku harus selalu menatap kenyataan dan tidak lagi membohongi perasaan sendiri” Ungkap Vivi dalam  hati.
            Keesokan harinya Vivi bertemu dengan Rangga. Rangga tengah menggandeng seorang perempuan. Rangga melihat Vivi mengetahui keberadaaannya. Kemudian Rangga berbalik arah menghindari Vivi. Namun kali ini Vivi tidak bersikap diam lagi, ia tidak ingin lagi membohongi perasaannya sendiri dengan selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Rangga tidak sedang mengkhianati. Vivi bersikap seperti itu hanya sekedar untuk menenangkan hatinya. Namun sekarang ia ingin menerima kenyataan bahwa ia memang terluka. Saat itu sontak saja Vivi menghampiri Rangga tepat di depannya saat perempun yang tengah bersamanya sedang membeli minuman “Apa kabar, Rangga? Aku fikir sudah cukup sampai disini aku bersabar, dan sudah cukup sampai disini kamu menyakiti. Kamu tidak usah menghindar lagi, karena aku tidak akan lagi ada dalam kehidupanmu ”. ucap Vivi yang kemudian pergi berlalu. Rangga yang tidak menyangka bahwa Vivi akan berkata seperti itu hanya terdiam dan memandang Vivi yang pergi berlalu meninggalkan dirinya.
Setelah itu Rangga segera mengajak Keyla, perempuan yang selalu bersamanya untuk pulang. Setelah mengantarkan Keyla pulang, Rangga segera menemui Vivi ke rumahnya. Ia pun mengetuk pintu dan berharap Vivi ada di rumahnya. Namun ternyata ketika yang membukakan pintu adalah ibunda Vivi dan ia mengatakan bahwa Vivi sedang tidak ada di rumah, Rangga segera berpamitan pulang kembali dan ia menancapkan kembali gas motornya menuju sebuah dermaga kecil dekat rumah Vivi. Ya, tempat favorit mereka berdua kala masih menjalin tali kasih. Benar saja ketika Rangga kesana, Vivi tengah duduk disana dengan pandangan yang entah memandang apa. Vivi tidak tahu jika di belakangnya ada Rangga yang memperhatikannya. Perlahan, Rangga pun menghampiri Vivi dari belakang. “Vivi?” Ucap Rangga penuh perasaan. Vivi pun menengok setengah terkejut. “Rangga?! Mau apa kamu kesini?” Ucap Vivi dengan nada keras. “Maafkan aku, Vi. Aku tidak tahu kenapa ucapanmu waktu itu membuatku sakit sekali tapi aku jadi sadar ternyata terluka itu memang sakit sekali rasanya. Aku mau meminta maaf karena aku sempat melukaimu dengan pengkhianatiku.” “Untuk apa kamu lakuin ini semua,  tiba-tiba datang kesini dan meminta maaf?” “Aku hanya ingin meminta maaf, karena aku sekarang menyadari kesalahanku dan aku bisa merasakan kesakitanmu.” “Terus sekarang mau kamu apa?” “Aku hanya ingin kamu mema’afkanku” “Lalu?” “Aku hanya ingin menghapus semua luka yang pernah aku goreskan dalam hatimu” “Sudahlah, aku sudah melupakan semua itu” “Tapi aku mohon, maafkan aku. Ucapkan bahwa kamu telah mema’afkanku” “Aku tidak mengerti dengan sikapmu” Ucap Vivi dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca. “Tiga tahun aku bersamamu, itu bukan waktu yang sebentar dan aku menghancurkan semua harapan dan mimpi-mimpi kita dulu dengan sebuah pengkhiatanku yang tidak ada maknanya. Dan kini aku kembali ingin menebus semua kesalahanku yang membuat perasaanmu hancur” ucap Rangga yang masih mengingat semua kenangan indahnya kala bersama Vivi. “Kamu fikir dengan meminta maaf semuanya akan selesai? Kamu tidak tahu bagaimana rasa sakit yang aku rasakan waktu itu.  Tapi aku selalu mencoba tegar dan menganggap bahwa apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan itu tidak benar. Aku mencoba membohongi perasaanku sendiri dengan tidak pernah melihat kenyataan bahwa kamu benar-benar menghancurkan dan melukaiku” “Aku tahu maaf bukanlah penghapus luka, tapi aku yakin dari sanalah semua luka itu perlahan akan terkikis. Aku meminta keikhlasanmu untuk mema’afkanku” “Baiklah jika itu maumu, akan aku ucapkan bahwa aku mema’afkan mu Rangga. Tapi aku minta kamu jangan temui aku lagi” “Maafkan aku Vivi”. Rangga memeluk Vivi. Vivi yang begitu sakit hati dan terluka tak terasa mengeluarkan air matanya saat Rangga memeluknya penuh perasaan. Vivi tidak bisa menolak dan menahan Rangga untuk memeluk dirinya dengan penuh rasa bersalah. Perlahan rasa sakit itu pun mulai terkikis. Angin yang membawa daun kering menambrak  Vivi dan Rangga. Perlahan rasa sakit dan luka yang Vivi rasakan pun menghilang. Air mata Vivi berjatuhan membasahi baju Rangga. Rangga pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Vivi. “Kamu jaga diri baik-baik ya. Kamu harus tahu bahwa sebenarnya perempuan yang ada dalam hati ini hanya lah kamu. Aku lakukan ini semua karena aku ingin melihatmu tegar dan terbiasa tanpa aku yang sudah tiga tahun bersamamu” “Maksudmu?” Tanya Vivi penuh tanya. Rangga pun tersenyum “Aku harus pergi dulu, ma’afkan aku”. Vivi yang tidak mengerti dengan sikap Rangga hanya terdiam sambil melihat Rangga pergi berlalu meninggalkannya sendiri. Rangga seakan pergi dengan membawa luka yang ada dalam hati Vivi, karena entah mengapa rasa sakit yang dirasakan Vivi kini hilang entah kemana. Vivi tidak mengerti dengan semua yang ia rasakan.
            Beberapa hari kemudian Vivi dikejutkan dengan kabar Rangga masuk rumah sakit. Kabar itu dari perempuan yang waktu itu bersama Rangga, yang kemudian mengajak Vivi untuk segera menjenguk Rangga. Vivi heran dan begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Vivi, tentang apa dan kenapa perempuan itu mengabarkannya dan mengajaknya menjenguk Rangga, namun Vivi memilih diam tak banyak bicara, ia segera berangkat untuk menjenguk Rangga. Sesampainya disana, Vivi melihat Rangga tengah berbaring tidak sadarkan diri, kedua matanya terpejam dan alat pendeteksi jantung berada di sampingnya, salah satu tangannya disuntik jarum infus. Kondisi Rangga sangat mengkhawatirkan. Vivi pun mendekati Rangga, air matanya menetes. “Rangga?” Ucap Vivi. Kemudian ia pun menoleh ke arah perempuan yang mengajaknya menegok Rangga “Sebenarnya Rangga sakit apa?” Tanya Vivi sedih. “Dia telah lama mengidap penyakit kanker kepala stadium akhir, dan waktu itu dokter sempat memprediksikan bahwa usianya tak akan lama lagi. Semenjak saat itu ia memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu.” “Pergi dari kehidupanku?” “kenangan kalian sangat indah dan kebersamaan yang sudah kalian jalin pun sudah sangat lama, dia hanya ingin melihatmu kuat setelah dia benar-benar pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya” “Kenapa dia lakukan itu semua?” “Dia hanya ingin melihatmu kuat meninggalkan semua rasa, kenangan dan kebersamaan yang pernah kalian jalin” “Kenapa harus dengan cara seperti itu, kenapa harus dengan sebuah luka?” “Karena dia fikir hanya dengan cara itu, dia punya alasan untuk bisa pergi dari mu ia hanya ingin mengajarkan hidup tanpa dia lagi untuk selama-lamanya”. Vivi pun menangis, dia memegang tangan Rangga. “Dia juga sempat beberapa kali pingsan dan saat tersadar dia selalu memanggil-manggil namamu.”. Mendengar cerita perempuan itu, Vivi hanya terdiam. “Aku tahu dia sangat menyayangimu dan ketika beberapa kali jalan denganku, dia tak sedikit pun menunjukkan rasa sayangnya. Namun perjuangannya untuk tetap bersamaku itu selalu ada. Mungkin ia hanya ingin menjadikanku alasan untuk bisa pergi dari kehidupanmu” Lanjut perempuan itu. Namun Vivi masih terdiam. Perempuan itu pun menarik nafas dalam dan melanjutkan kembali ceritanya “Aku tahu, cara Rangga sangatlah konyol. Tapi itu semua karena dia menyayangimu. Aku bukanlah orang yang sebenarnya dia sayang. Tapi kamu adalah satu-satunya perempuan yang dia sayang. Jadi aku mengajakmu kesini bukan tanpa alasan. Karena aku tahu hanya kamu yang bisa menyadarkannya”. Namun Vivi hanya terdiam mendengar semua cerita perempuan itu. Ia hanya meneteskan air mata, namun kemudian Vivi memegang erat tangan Rangga. Air mata Vivi menetes di atas tangan Rangga. Vivi tidak tahu apa yang harus ia katakan dan ia lakukan. Semua rasa bercampur menjadi satu. Vivi pun memegang tangan kanan Rangga dengan erat. Satu menit pun telah berlalu. Akhirnya tangan Rangga perlahan bergerak dan ia mulai membuka kedua matanya pelan-pelan. Menyadari semua itu, perempuan yang selalu bersama Rangga itu pergi keluar. Dan ia hanya melihat Vivi dan Rangga di balik kaca ruangan Rangga dirawat. “Vi...vi... kau kah itu? Aku merasakan kehadiranmu. Vi...vi... Maafkan a...ku.” Ucap Rangga terbata-bata. “Rangga,,,.” Ucap Vivi penuh perasaan. “Maafkan semua salah ku. Maafkan caraku menyayangimu. Aku mohon maafkan aku. Ini yang ingin aku ucapkan waktu kamu nelp aku waktu itu” Ucap Rangga lagi. Mendengar suara Rangga, Vivi pun kembali meneteskan air mata. Kenapa harus dengan cara seperti itu Rangga?” “Maafkan aku, Vi. Selamat ulang tahun”. Kemudian alat pendeteksi jantung pun berbunyi tanpa jeda menandakan bahwa jantung Rangga telah berhenti berdetak. Mengetahui hal itu Vivi pun histeris ”Ranggaaaaaaaaaaaaaa”. Keyla, perempuan yang selalu bersama Rangga itu pun menghampiri dan menenangkan Vivi. Kemudian memanggil dokter. Vivi yang masih histeris tidak mau kehilangan Rangga menangis sejadi-jadinya. Namun ternyata benar. Ia merasa lebih kuat dan tegar. Semua yang Rangga lakukan sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya itu tepat. Ia  perlahan menghentikan tangisannya dan Vivi sudah bisa merelakan kepergian Rangga. Tak lama kemudian kekasih Rangga  memegang salah satu pundak Vivi “Ada sesuatu untukmu” Vivi pun menoleh “Sebuah kalung dari Rangga dan ini sebuah surat dari Rangga untukmu. Vivi pun membuka surat dari Ranggga. “Selamat ulang tahun sayang, dan happy anyversary untuk kita. Maafkan jika caraku menyayangimu salah. Aku hanya ingin mengajarkanmu untuk kuat dan bisa merelakan aku pergi bersama semua kenangan dan kebersamaan kita dulu” Vivi pun menangis. “Oya aku hanya ingin memberi tahu, bahwa aku dan Rangga belum pernah menjalin suatu hubungan. Kita hanya selalu bersama tanpa ada ikatan apapun karena mungkin ia tidak  ingin mengkhianatimu. Jadi Rangga tidak pernah mengkhianatimu” Ucap perempuan itu “Jadi kamu bukan kekasih Rangga?” “Sama sekali bukan, aku hanya selalu bersama saja. Oya maaf aku harus segera pergi.” Kemudia perempuan itu pergi meninggalkan Vivi entah kemana. Dan Vivi hanya terdiam mendengar cerita perempuan itu.
            Keesokan harinya, Vivi melayat ke makam Rangga begitu pun dengan perempuan yang selalu bersama Rangga. Setelah beberapa lama dan semuanya pergi, Vivi masih berada di makam Rangga sendiri. Tepat di samping makan Rangga, Vivi memandang batu nisan Rangga “kamu benar, Rangga. Sekarang aku menjadi lebih kuat melepas kepergianmu, kamu memberikan aku luka dan setelah itu kamu membawanya  kembali. Dan kini tidak ada luka sedikit pun di hati ini. Karena kamu sudah mengambilnya kembali waktu itu. Maafkan aku telah mengiramu mengkhianatiku. Aku menyayangimu, dan aku merelakan kepergianmu. Kado terindah yang tak kasat mata yang pernah aku dapatkan”. Vivipun pergi berlalu meninggalkan makam Rangga. _The end_


Minggu, 19 Mei 2013

Puisi Kehancuran

Luka

Sendiri. Termenung. Terdiam.
Di tengah keramaian dan kebisingan, aku terdiam
dan aku masih saja terdiam.
Inginku hancurkan hati ini

Remuk. Hingga tak bersia
Tuhan.... tolong aku...
Basuh luka ini
Hilangkan rasa ini

Sabtu, 11 Mei 2013

Puisi Kehancuran

Mimpi Hancur

Tuhan, Engkau tahu begitu besar mimpiku
Walau aku sadari itu tidak akan pernah mampu mengalahkan kebesaranMu..
Tuhan, Engkau tahu begitu tinggi cita-citaku
Namun aku menyadari bahwa Engkau maha tinggi
Tuhan, Engkau tahu begitu besar dan tinggi mimpi dan cita-citaku
Namun itu tak mampu mengalahkan kehendak-Mu
Aku hanya berharap semoga ini yang terbaik
Walau terasa sangat sakit.

Selasa, 07 Mei 2013

Puisi Dalam Hati

Dimensi Rasa

Kini aku sendiri di temani sunyi
Dan aku seakan terbunuh dengan suatu pengkhianatan
Semua kata-kata terkunci dalam belenggu kebodohan berselimut kepolosan
Dan semua seakan terpasung dalam lorong yang begitu panjang dan jauh

Dan aku,,, disini,,,,
Menerawang jauh menembus dimensi rasa
Aku terdiam terlewati hembusan rasa
Aku terpaku. Entah dalam dimensi rasa apa?

Puisi Rindu

Kala Mata Mulai terlelap

Jengah aku dengan hidup yang kadang tak aku mengerti
Namun dua orang, papa dan mama selalu melintas dalam benakku
Beri aku semangat

Senin, 06 Mei 2013

Puisi Kenangan

Kenangan

Irama malam menjemput bayang-bayang kenangan
Membawa kisah menghadirkan ingatan yang tak mungkin terlupakan
Ingin aku memeluk dan berharap waktu dapat mengerti
Betapa aku ingin kembali dalam masa-masa itu. Kenangan.

Aku tahu. Malam akan terus berganti dan siang akan terus ada
Semua tak akan terhenti dan semua akan terus berjalan.
Haruskan aku membuang waktuku
Hanya untuk memeluk kenangan itu erat-erat?